Sebab-Utama Indonesia Masih Peringkat Dua Kasus TBC Dunia
Indonesia saat ini berada di posisi kedua dunia dalam jumlah kasus baru tuberkulosis (TBC), dengan sekitar 1,09 juta kasus tahunan — hanya di bawah India yang mencatat sekitar 2,8 juta kasus. Angka kematian akibat TBC di Indonesia diperkirakan mencapai 125 ribu jiwa tiap tahun.
Menurut pakar paru dan peneliti vaksin TBC, Erlina Burhan, tantangan utama dalam penanganan TBC di Indonesia berakar dari tiga aspek: deteksi, penerimaan pengobatan, dan keberlanjutan pengobatan.
1. Deteksi yang belum optimal
Masih banyak pasien TBC yang tidak tertangkap dalam sistem. Cakupan penemuan kasus belum mencapai 100%, sehingga banyak orang yang terinfeksi tetap berada di luar pengobatan, dan menjadi sumber penularan bagi masyarakat. Hal ini membuat angka kasus baru tetap tinggi.
2. Penolakan atau pengabaian pengobatan
Bahkan ketika kasus terdeteksi, tidak semua pasien bersedia menjalani pengobatan. Sikap denial atau takut stigma menjadi hambatan tersendiri. Akibatnya, proses pengobatan tidak dimulai atau dihentikan lebih awal.
3. Pengobatan yang tidak tuntas
Proses pengobatan standar TBC memakan waktu utama hingga 6 bulan. Namun banyak pasien yang berhenti lebih awal karena merasa sehat sementara bakteri masih aktif. Kondisi ini dapat menyebabkan perkembangan TBC resisten obat, yang lebih sulit ditangani.
Baca Juga: Tempat Aman Dan Nyaman Cari Cuan Sampingan PUBGTOTO
Perlunya strategi baru
Prof Erlina menegaskan bahwa pendekatan yang selama ini dilakukan di Indonesia meskipun bertahun-tahun belum banyak berubah. “Kita punya masalah yang sama dari tahun ke tahun, tapi pendekatannya atau strateginya juga sama. Business as usual, mana mungkin menjadi lebih baik. Harus extraordinary, harus berubah, harus berbeda.”
Dengan memahami penyebab fundamental tersebut — yakni deteksi yang lemah, pengobatan yang tidak dilaksanakan penuh, dan strategi yang tidak adaptif — maka diperlukan pendekatan baru termasuk peningkatan kapasitas sistem deteksi, pemberdayaan pasien serta edukasi masyarakat, dan adopsi metode pengobatan atau pencegahan yang lebih inovatif.








